Jalan Setapak Menuju Diam

 gue nggak tau pasti kenapa pagi itu gue berangkat. cuma ada satu suara kecil di kepala yang bilang, “udah, jalan aja dulu.”


jadi gue jalan.

masuk ke kampung yang jalannya masih tanah. rumah-rumah kayu berdiri seadanya, suara ayam nyaring banget, dan motor jarang lewat.


di ujung desa, ada jalan kecil yang masuk ke bukit. orang-orang bilang itu cuma jalan tani. tapi buat gue yang datang bawa resah, itu kayak undangan buat pergi lebih jauh.=

jalannya sempit, diapit ilalang dan batu-batu kecil. setiap langkah ngebawa gue makin jauh dari kebisingan, makin deket sama… entah apa. yang jelas makin sepi, makin enak.

gue jalan pelan. dengerin suara sepatu nabrak kerikil. kadang kaki nyangkut akar. kadang ngos-ngosan juga, tapi nggak bikin nyesel.

di tengah perjalanan, gue duduk sebentar. buka bekal seadanya—roti sobek isi kacang, sama air putih. nikmat nggak harus fancy.

dan di titik itu… gue diem. beneran diem.

bukan karena capek, tapi karena nggak ada yang perlu gue kejar.

sepanjang hidup, rasanya selalu buru-buru. kerja, target, respon chat, deadline, ekspektasi. tapi di jalan setapak ini, semua itu kayak ditinggal di belakang.

gue nggak nemu pemandangan luar biasa. cuma pohon, rumput, sama langit mendung. tapi justru itu yang bikin semua terasa nyata.

dan pas akhirnya turun lagi ke desa, hati rasanya ringan. nggak semua petualangan harus spektakuler.

kadang, yang paling lo butuhin cuma sepotong waktu di jalan kecil, buat ngerasa jadi manusia biasa yang lagi nyari napas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Terus, Walau Nggak Tahu Mau Kemana

Catatan Liar dari Balik Hutan

Petualangan Khatulistiwa