Hujan di Tengah Jalur Sepi

 Gue nggak niat kabur.

Cuma pengen jalan. Sendirian.


Awalnya cuaca cerah. Langit abu-abu terang, angin pelan, dan jalur hiking masih kering. Jalur ini bukan yang hits.

Nggak banyak orang tahu, dan itu justru bikin gue milih tempat ini.


Langkah awal masih ragu. Kaki berat. Kepala juga masih ribet mikirin kerjaan, omongan orang, hal-hal kecil yang sering dibesar-besarin di kepala sendiri. Tapi makin jalan, makin plong.

Semak-semak basah, tanah lembek, ranting patah di bawah sepatu—semuanya ganggu tapi justru bikin sadar kalau gue ada di sini, sekarang.


Sekitar sejam jalan, hujan turun. Bukan deras banget, tapi cukup buat ngerubah semua suasana.

Tanah jadi licin, udara makin dingin, dan suara hutan berubah. Lebih sunyi, tapi dalam.


Gue berhenti di bawah pohon gede.

Nggak bawa jas hujan.

Nggak ada tempat berteduh juga. Tapi gue nggak nyesel.

Karena anehnya, gue ngerasa tenang.

Kayak semesta nyiram kepala gue pake air es biar nggak overthinking lagi.

Gue duduk di batu, ngeresap semuanya.

Uap tanah naik, suara titik-titik air jatuh ke daun, dan jauh di ujung telinga—suara burung yang tetep nyanyi meskipun hujan.

Gue diem aja.

Nggak nyari makna, nggak cari alasan.

Cuma duduk, basah, dan sadar kalau kadang yang paling nyembuhin tuh bukan omongan orang. Tapi diam yang dateng dari tempat yang bener.

Setelah hujan reda, gue jalan lagi. Sepatu becek, rambut lepek, tapi isi kepala lebih ringan.

Gue nggak nemuin pemandangan spektakuler.

Nggak ada sunrise.

Nggak ada air terjun rahasia.

Tapi gue nemuin sesuatu yang lebih penting:

diam yang jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Terus, Walau Nggak Tahu Mau Kemana

Catatan Liar dari Balik Hutan